Pendakwah Kian Dijauhi Generasi Muda: Siapa yang Patut Disalahkan?

·

,

Sadar.id – Di tengah arus deras perkembangan teknologi dan budaya populer, fenomena menarik terjadi: semakin sedikit generasi muda yang antusias mengikuti ceramah-ceramah keagamaan konvensional. Pendakwah yang dulunya menjadi rujukan moral dan spiritual masyarakat kini mulai kehilangan panggung, khususnya di kalangan anak muda.

Sebuah survei terbaru dari Lembaga Riset Sosial dan Agama Indonesia (LERSAI) menunjukkan bahwa hanya 28% anak muda usia 18–30 tahun secara aktif mengikuti kajian atau ceramah keagamaan secara rutin. Angka ini menurun drastis dibandingkan satu dekade lalu yang mencapai 51%.

Fenomena Sosial atau Kegagalan Komunikasi?

Menurut Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) FAI Unissula, Hidayatus Sholihah SPd I MPd MEd, ini bukan semata karena generasi muda kehilangan minat terhadap agama. “Agama tidak ditinggalkan. Yang ditinggalkan adalah cara penyampaian yang dianggap tidak relevan, menggurui, bahkan terkadang menghakimi. Ini krisis komunikasi antara pendakwah dan pendengar muda,” jelasnya.

Di sisi lain, media sosial telah melahirkan tokoh-tokoh baru yang lebih dekat dengan gaya hidup generasi Z dan milenial. Konten religius tetap dicari, tapi dalam format yang lebih ringan, dialogis, dan membumi. Mereka lebih tertarik dengan diskusi soal mental health dalam perspektif Islam, toleransi, atau bahkan keberagaman budaya dalam bingkai iman.

Pendakwah atau Pendengar yang Berubah?

Sebagian kalangan menilai bahwa generasi muda terlalu “rapuh” terhadap kritik atau ajakan yang tegas. “Dulu ceramah keras itu biasa. Sekarang sedikit menyinggung saja, langsung dicap tidak relevan. Apakah ini tanda lemahnya iman atau hanya perubahan zaman?” ujar Ustaz H, seorang pendakwah senior yang dikenal tegas dalam menyampaikan dakwah.

Namun, generasi muda punya pandangan berbeda. “Kami bukan tidak mau belajar agama. Kami hanya ingin merasa dimengerti. Kalau isi ceramah hanya menyalahkan gaya hidup kami tanpa solusi atau empati, kenapa kami harus datang?” kata Dita (21), seorang mahasiswa di Unissula Semarang

Siapa yang Salah?

Menjawab pertanyaan ini tidak mudah. Apakah pendakwah gagal beradaptasi? Atau generasi muda yang terlalu selektif dan cepat menilai?

Jawabannya mungkin terletak pada keterbukaan kedua belah pihak. Pendakwah dituntut untuk melek zaman, belajar pendekatan baru, dan menyampaikan pesan dengan bahasa yang relatable. Sementara generasi muda perlu lebih kritis memilih rujukan, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang ditawarkan agama.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *